Kesukaan shaiyah

Loading...

Jumat, 20 April 2012

Tsunami Adalah Poseidon???

Catatan Yunani Kuno menyebut, pada 1.500 tahun lalu lautan bangkit, ombaknya menyelamatkan sebuah kota dari perampok Persia. Sejarawan Yunani, Herodotus menyebut, itu campur tangan dewa. 

Dewa itu adalah Poseidon, penguasa laut, sungai, dan danau. Yang memiliki senjata berupa trisula yang bisa menyebabkan banjir dan gempa bumi. 

Namun, bukti baru menyebut, apa yang dianggap intervensi dewa itu tak lain adalah fenomena alam, tsunami. Demikian kesimpulan para peneliti dalam pertemuan tahunan Masyarakat Seismologi Amerika atau Seismological Society of America, Kamis 19 April 2012. 

"Kejadian itu adalah bagian sejarah kuno, kini kita harus menginterpretasikannya secara ilmiah," kata  Klaus Reicherter dari  Aachen University, Jerman yang mempelajari bukti geologi dari kejadian itu, seperti dimuat situs sains, Our Amazing Planet

Sekitar 50 tahun setelah peristiwa yang diduga terjadi pada tahun 479 Sebelum Masehi, Herodotus dalam catatannya bahkan menyebut, "laut surut secara luar biasa, dalam waktu lama." 

Setelah surut, timbul ombak raksasa yang menggulung pasukan Persia yang sedang mengarah ke kota yang kini disebut Nea Potidea, di Semenanjung Kassandra di utara Yunani, sebelum mereka mencapai daratan. 

Kala itu, ombak tinggi, yang belum pernah disaksikan penduduk, datang tiba-tiba. Herodotus menulis, "pasukan Persia tersapu, kota dan seluruh penduduknya selamat."

Herodotus, seperti halnya penduduk lainnya, menganggap sang penyelamat adalah Poseidon, Dewa Laut, yang menghukum para penjajah yang melakukan pelanggaran. Namun, menurut Reicherter, catatan Herodotus justru menggambarkan fase-fase tsunami yang menimbulkan ancaman lebih besar di wilayah utara Laut Aegea. 

"Kami ingin melihat apakah catatan historis ini menggambarkan kejadian nyata, lalu mencoba meneliti wilayah laut yang digambarkan dalam legenda itu," kata Reicherter.

Pengkajian juga berguna untuk menentukan, apakah kawasan perairan itu aman atau tidak aman, mengingat popularitasnya sebagai tujuan wisata di musim panas.

Forensik tsunami
Hasil penelitian mengungkap, tanda-tanda tinggalan tsunami di Semenanjung Kassandra tak hanya termaktub dalam teks kuno, namun juga bisa dilihat dari kondisi tanah di dekat kota yang digambarkan Herodotus. 

Tim peneliti menemukan lapisan pasir, yang diduga dibawa gulungan ombak tsunami jauh ke daratan.

Apalagi, kondisi geologi di area tersebut memungkinkan terbentuknya gelombang gergasi. Terdapat cekungan mirip bak mandi dekat barat laut perairan Yunani, bisa memproduksi tsunami setinggi 2-5 meter, menurut permodelan yang dilakukan Reicherter dan timnya, berdasarkan data yang mereka dapat.

Untuk membuktikan kecurigaannya, tim menguji karbon kerang yang ditemukan di antara pasir yang dibawa tsunami ke daratan. "Cocok, asalnya sekitar 500 tahun Sebelum Masehi, dengan penyimpangan 25 sampai 30 tahun," kata Reicherter.

Dia menambahkan, penelitian yang dilakukan ahli adalah bagian untuk mendata kejadian tsunami kuno. Selain menguak sejarah, juga untuk mengerahui wilayah mana yang rentan terhadap gelombang tsunami di masa kini. Untuk membantu pemerintah mempersiapkan diri secara lebih baik. Sebab, tsunami bisa berulang. 

Pembangkit Listrik Luar Angkasa (PLLA)

Krisis energi membayangi masa depan dunia. Sumber daya yang ada tak cukup, tak pernah akan cukup menandingi nafsu manusia yang ingin segalanya makin mudah dan canggih.
Bahan bakar fosil yang makin menipis di tengah kekisruhan di Timur Tengah, membuat orang melirik sumber-sumber energi alternatif, misalnya panas bumi, cahaya matahari, air, juga nuklir yang meski bisa menimbulkan petaka, tetap memikat.

Soal energi alternatif, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyiapkan terobosan: memanen energi dari luar angkasa. Sebuah perangkat berbentuk mirip gelas koktail raksasa sedang digagas. Ia nantinya akan diterbangkan ke langit untuk memanen energi matahari dari dekat.
NASA siap memanen energi dari luar angkasa 1

Seperti dimuat Daily Mail, NASA telah mengalokasikan dana untuk melakukan penelitian awal.

Energi yang dikumpulkan itu nantinya akan disalurkan ke bumi, diambil stasiun pembangkit listrik, dan disalurkan ke konsumen.

Ide ini dibahas secara serius di NASA, yang mengutus salah satu mantan insinyurnya untuk menyiapkan konsep studi.

John Mankins, yang menjalankan perusahaan Artemis Innovation Management Solutions di California mengatakan, instrumen pemanen energi matahari -- SPS-ALPHA atau  Solar Power Satellite via Arbitrarily Large PHased Array, akan menjadi nyata suatu hari nanti. Ia mengklaim, cara ini lebih murah dari pada energi alternatif yang lain.

Instrumen SPS-ALPHA dibentuk dari ribuan potongan mirip kaca tipis yang melengkung yang masing-masing bisa bergerak, untuk memastikan mereka bisa menyerap sinar matahari sebanyak mungkin.

Bagian dalamnya, akan dilapisi dengan panel photovaltic yang mengubah energi matahari menjadi gelombang mikro.

Gelombang mikro ini kemudian disalurkan ke bumi, melalui bagian bawah 'gelas koktail' itu.
NASA siap memanen energi dari luar angkasa 2

Dalam situs NASA, Mankins menulis, proyek ini sebagai sebuah 'novel, bio-imitasi pendekatan terhadap energi matahari di luar angkasa'.

"Jika berhasil, proyek ini akan memungkinkan pembangunan platform besar, dari puluhan ribu elemen kecil yang bisa mengirimkan energi dari puluhan sampai ribuan megawatt, menggunakan transmisi daya nirkabel untuk dipasarkan di Bumi, juga menyediakan energi untuk misi ke luar angkasa," kata Mankins.

Teknologi ini menjadikan impian manusia membuat "Bola Dyson" mendekati kenyataan. Bola Dyson adalah megastruktur yang diusulkan Freeman Dyson, berupa panel surya berbentuk bola yang mengelilingi matahari, menyerap energinya, dan menyediakan daya bagi manusia secara tak terbatas. Namun, tak ada penjelasan bagaimana mengalirkan energi tersebut ke Bumi, yang berjarak 93 juta mil. Ide ini banyak dikutip  dalam karya fiksi ilmiah.

Masalah utama Bola Dyson terjawab dalam instrumen yang digagas NASA. Yakni dengan mengubah energi Matahari menjadi gelombang mikro.

Pengumuman NASA datang setelah regulator di Kalifornia menyetujui kontrak dengan perusahaan AS, Solaren Corp untuk memasok energi berbasis matahari dari luar angkasa kepada sejumlah perusahaan di AS awal 2016.

Sebuah grup perusahaan Jepang yang bekerjasama dengan badan antariksanya, Japan Aerospace Exploration Agency juga berencana melakukan hal yang sama dalam kurun waktu 20 tahun. 

Segelas Air Bisa Redakan Emosi

Jika Anda tiba-tiba emosi terhadap seseorang atau tidak mampu berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah di kantor, cobalah minum segelas air. Bisa jadi emosi itu mendadak meledak lantaran tubuh Anda menderita dehidrasi ringan.

Sebab dehidrasi ringan itu memang dapat mengubah suasana hati. Termasuk, mengurangi tingkat energi dan kemampuan untuk berpikir jernih. Kesimpulan itu merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim ahli dari Universitas Connecticut.

"Kehilangan hanya 1,5 persen volume air di dalam tubuh akibat kegiatan sehari-harii saja dapat mengubah suasana hati, terutama pada perempuan. Mereka lebih rentan terhadap efek merugikan dari dehidrasi ringan," ujar Harris Lieberman, salah satu peneliti, seperti dikutip dari Daily Mail.

Pengujian menunjukkan bahwa, baik saat berolahraga atau hanya duduk, dehidrasi ringan yang terjadi menimbulkan efek yang sama. Rasa haus memang tidak akan muncul sampai kita mencapai 1-2 persen dehidrasi. 

"Tapi, ketika dehidrasi sampai pada tahap itu, efek negatif akan terasa pada pikiran dan kerja tubuh kita," ujar Lawrence Armstrong, kepala peneliti.

Dehidrasi dapat terjadi pada semua orang, tak terkecuali mereka yang bekerja sepanjang hari di depan komputer. Sementara itu, orang yang sedang berolahraga juga akan kehilangan 8 persen volume air dalam tubuhnya.

Hal ini didapatkan setelah para peneliti melakukan serangkaian tes pada beberapa orang untuk mengukur kewaspadaan, konsentrasi, waktu reaksi, belajar, memori, dan penalaran. Hasilnya lalu dibandingkan terhadap kelompok orang yang tidak mengalami dehidrasi.